Bidadari Untuk Dewa

- Hallo sahabat BELAJAR DROPSHIP, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Motivasi Bisnis, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Bidadari Untuk Dewa
link : Bidadari Untuk Dewa

Baca juga


Jujur, Saya deg-degan. 
Kenapa?
Karena orang-orang akan tahu siapa Saya sesungguhnya. Baik buruknya.

Ya, keputusan mengangkat kehidupan Saya untuk dinovelkan tentu menjadi keputusan berat yang perlu Saya ambil.
Banyak pertimbangan.
Banyak kekhawatiran.

Ya, Saya khawatir orang-orang malah membenci dan tidak suka dengan Saya, setelah membaca novelnya...
Ya, Saya takut kawan-kawan jadi menilai buruk pada Saya, setelah tahu isi ceritanya...

Hingga akhirnya, Saya sadar, terlalu banyak kekurangan & keburukan yang tersemat dalam pribadi Saya. 
Terkadang Saya berpikir dan bertanya-tanya, "Apakah memang sudah layak diangkat ke Novel? Siapa Saya? Bukan siapa-siapa..."
Sampai suatu titik, dimana Saya mengingat kembali episode kehidupan saat berada dalam keadaan koma, di ruang ICU saat itu, Saya berjanji pada diri sendiri,
"Ya Allah, seandainya Saya diberi kesempatan hidup untuk kedua kalinya, izinkan hamba untuk berbuat banyak kebaikan dan menebar manfaat untuk banyak orang..."

Dan sekarang, Saya kembali pulih. 
Belum 100%, tapi sudah cukup untuk bisa beraktivitas dan mulai membuktikan janji tersebut.

Saya akhirnya berpikir, kalau saja diangkatkan kisah hidup Saya tersebut bisa menginspirasi jutaan orang di Indonesia, kenapa Saya harus menolaknya...
Bisa jadi, ini adalah sinyal dari Allah agar bisa  menyentuh lebih banyak kehidupan.

Lewat apa?
Ya lewat novel ini.

Saya bukanlah novelis.
Saya tak pandai bercerita.
Saya tidak bisa banyak berkata-kata.
Allah kirim Asma Nadia yang berjodoh untuk menuliskan kisah hidup Saya tersebut. Orang terbaik. Orang pilihan. Semoga Allah ridho dan memberikan keberkahan. Aamiin...

Mohon doanya, dari kawan-kawan semua, dari ANDA, semoga kehadiran novel "Bidadari untuk Dewa" ini bisa bermanfaat dan menginspirasi banyak orang.
Saya tidak akan meminta Anda untuk membacanya. Tidak. Cukup doakan saja. 

Jujur, Saya deg-degan. 
Kenapa?
Karena orang-orang akan tahu siapa Saya sesungguhnya. Baik buruknya.

Ya, keputusan mengangkat kehidupan Saya untuk dinovelkan tentu menjadi keputusan berat yang perlu Saya ambil.
Banyak pertimbangan.
Banyak kekhawatiran.

Ya, Saya khawatir orang-orang malah membenci dan tidak suka dengan Saya, setelah membaca novelnya...
Ya, Saya takut kawan-kawan jadi menilai buruk pada Saya, setelah tahu isi ceritanya...

Hingga akhirnya, Saya sadar, terlalu banyak kekurangan & keburukan yang tersemat dalam pribadi Saya. 
Terkadang Saya berpikir dan bertanya-tanya, "Apakah memang sudah layak diangkat ke Novel? Siapa Saya? Bukan siapa-siapa..."
Sampai suatu titik, dimana Saya mengingat kembali episode kehidupan saat berada dalam keadaan koma, di ruang ICU saat itu, Saya berjanji pada diri sendiri,
"Ya Allah, seandainya Saya diberi kesempatan hidup untuk kedua kalinya, izinkan hamba untuk berbuat banyak kebaikan dan menebar manfaat untuk banyak orang..."

Dan sekarang, Saya kembali pulih. 
Belum 100%, tapi sudah cukup untuk bisa beraktivitas dan mulai membuktikan janji tersebut.

Saya akhirnya berpikir, kalau saja diangkatkan kisah hidup Saya tersebut bisa menginspirasi jutaan orang di Indonesia, kenapa Saya harus menolaknya...
Bisa jadi, ini adalah sinyal dari Allah agar bisa  menyentuh lebih banyak kehidupan.

Lewat apa?
Ya lewat novel ini.

Saya bukanlah novelis.
Saya tak pandai bercerita.
Saya tidak bisa banyak berkata-kata.
Allah kirim Asma Nadia yang berjodoh untuk menuliskan kisah hidup Saya tersebut. Orang terbaik. Orang pilihan. Semoga Allah ridho dan memberikan keberkahan. Aamiin...

Mohon doanya, dari kawan-kawan semua, dari ANDA, semoga kehadiran novel "Bidadari untuk Dewa" ini bisa bermanfaat dan menginspirasi banyak orang.
Saya tidak akan meminta Anda untuk membacanya. Tidak. Cukup doakan saja. 

NGERI-NGERI SEDAP DUNIA DIGITAL

- Hallo sahabat BELAJAR DROPSHIP, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Bisnis Kreatif, Artikel bisnis online, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : NGERI-NGERI SEDAP DUNIA DIGITAL
link : NGERI-NGERI SEDAP DUNIA DIGITAL

Baca juga




NGERI-NGERI SEDAP DUNIA DIGITAL
(dari www.alidamanik.com)


Sewaktu cek-in di counter Garuda Indonesia di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, ternyata lebih dari 90% kursi sudah terisi. Padahal kami datang 2 jam sebelum waktu terbang. Kursi-kursi favorit dekat jendela dan di lorong semua sudah fully book. Kami bertiga akhirnya duduk di kursi-kursi tengah dan terpisah satu sama lain, diapit oleh orang-orang asing. Terbayang kami akan mati angin dalam penerbangan panjang itu.
“Sekarang rata-rata sudah (melalui) online cek-in, Pak”, kata petugas counter menjelaskan. “Yang cek-in melalui counter ini udah makin langka, tinggal orang kaya Bapak ini ..”, kata petugas pria setengah baya itu sambil menahan senyum. Saya merasa Bapak ini seolah sedang melihat Dinosaurus.
Tetapi senyum itu tiba-tiba hilang, dan dia berbisik penuh kemasygulan. Mukanya tiba-tiba serius; “tapi jangan ikut-ikutan online cek-in ya Pak. Kalo semua online, nanti kami kerja apa..?” Ahh…kemenangan memang manis…
Dari sekian banyak counter di terminal baru yang megah itu, memang 2 atau 3 saja yang buka. Sisanya kosong. Di counter yang buka itupun tidak terlihat antrian panjang penumpang. Hanya satu-dua saja.
Selamat datang di dunia digital. Dunia dimana mesin dan teknologi akan lebih banyak menggantikan peran manusia.
Dan mesin tak pernah ingkar janji, melakukannya dengan lebih cepat, praktis, efisien ngga pake repot.
Hari-hari ini, kita menyaksikan pengguna jalan tol harus antri lebih panjang kalo mau bayar pake uang tunai dibanding bayar pakai uang digital alias uang elektronik . Anda akan membayar lebih murah transaksi Go-Jek atau Go Food menggunakan Go Pay daripada pake uang tunai. Membeli barang lewat online jauh lebih murah dan efisien daripada anda pergi ke toko-toko atau warung konvensional. Dan seterusnya.
Ini dunia baru yang menggairahkan sekaligus membingungkan.
Menggairahkan karena kita akan masuk ke sebuah era baru yang berbeda yang menjanjikan kemajuan dan efisiensi . Membingungkan –bahkan buat sebagian, sepeti bapak penjaga counter Garuda itu, agak mencemaskan—karena akan ada dampak-dampak yang bukan tidak mungkin menyenggol kepentingan dasar anda. Boleh jadi yang kena senggol itu adalah periuk nasi anda.
Dan itu sudah terjadi.
Lihatlah, sudah berapa banyak mall dan pusat perbelanjaan yang tutup karena tidak mampu bersaing dalam dunia digital ini. Beberapa toko ritel sudah mengumumkan menyerah dan mengibarkan bendera putih. Yang paling tragis adalah kasus Seven Eleven (Sevel), tempat nongkrong anak-anak kekinian yang baru saja beberapa tahun lalu dipuja-puji karena terobosan bisnis modelnya.
Di belakang Sevel, ada Matahari, Ramayana, dan peritel-peritel yang mulai menutup satu demi satu cabangnya. Di belakang mereka, ada ratusan bahkan mungkin ribuan toko, ruko, yang sudah lama memasang pengumuman “DIJUAL” atau “DISEWAKAN”.
Jauh sebelum itu, sudah banyak korban bergelimpangan di medan pertempuran digital ini. Beberapa diantaranya adalah pemain-pemain raksasa yang terkenal seperti Kodak, Nokia dan BlackBerry. Dalam kasus Nokia, Stephen Elop Sang CEO suatu kali berujar penuh galau sebelum perusahaannya diakusisi Microsoft; “ kami tidak melakukan kesalahan apapun, tiba-tiba kami kalah dan punah”.
Dunia perbankan sudah lama mengurangi pelan-pelan pekerjaan –pekerjaan back office. Kalau tidak dikonsolidasi (kata lain dikurangi jumlah karyawannya) ya diotomasi, diganti oleh mesin. Dalam beberapa tahun ke depan, bahkan menurut para banker, akan ada 30 persen pekerjaan di dunia perbankan yang akan hilang, karena akan digantikan oleh teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Dunia transportasi sedang bersiap-siap untuk menyambut moda transportasi tanpa supir (driverless). Uber, salah satu pioneer dunia digital, sudah menguji coba terobosan ini. Bahkan Uber tidak memiliki asset berupa mobil yang dia sewakan. Dia hanya menyediakan aplikasi digital, dan perusahaan transportasi tradisional (seperti perusahaan taksi), harus menggelepar-gelepar.
Siapa yang menciptakan ini semua? Manusia. Siapa yang paling mengambil untung dari ini semua? Manusia. Siapa yang paling menderita dari ini semua? Juga manusia.
DIMANA POSISI KITA?
Beberapa bulan terakhir saya mendampingi para manager dari perusahaan Telekomunikasi terbesar negeri ini untuk melakukan perubahan menjadi perusahaan Digital. Mereka tidak akan banyak lagi menjual Pulsa dan Data, dua benda misterius yang selama ini menjadi tulang punggung penghasilan mereka. Kini, mereka akan menjual benda lebih misterius dan gaib lagi bernama barang Digital.
Mereka adalah para pemain garda depan di bisnis ini, para petarung yang bergulat di tengah arena permainan dan potensial keluar sebagai pemenang. Karena mereka memiliki sumberdaya melimpah untuk itu. Jaringan kabel atau nir-kabel yang membentang jauh sampai ke pedalaman-pedalaman, sumber daya manusia unggul yang mendapatkan pelatihan dan pendidikan terbaik, sumber dana tak terbatas dari investor kakap mereka, dan lain sebagainya.
Meski begitu, beberapa orang diantara mereka mengakui bahwa mereka sudah lelah mengikuti irama permainan super cepat dan spartan dalam bisnis ini. Mereka mulai berfikir untuk menepi, menjadi hanya penonton atau pengamat saja. Akibatnya mereka mulai berfikir untuk banting setir dan pindah haluan. Karena perubahan ke bisnis digital di perusahaan mereka bukan lagi sebuah pilihan melainkan sebuah keharusan jika ingin bertahan.
Gegap gempita dunia digital yang luar biasa ini memang menarik untuk dicermati, tetapi tentukan dulu posisi anda dimana dalam permainan ini, supaya anda tidak terlalu menghabiskan energi di dalamnya.
Ini siklus biasa saja dalam dunia ini. This old world keeps turning and we are here sit and wonder, kata sebuah pepatah. At the end, what we’re really learning, beibeh...
Perubahan dalam dunia digital ini sama saja dengan perubahan sejak zaman mesin uap di temukan oleh James Watt yang menjadi awal dari revolusi industri dulu. Tidak berbeda dengan perubahan status anda dari seorang bujangan menjadi seorang suami atau istri, kemudian menjadi orang tua. Selalu kita alami setiap saat, seperti perubahan jadwal meeting atau perubahan kebijakan setiap kali ganti pimpinan.
Kata kuncinya sama, sesuaikan saja cara anda berfikir, berdasarkan posisi atau visi yang anda pilih.
Kalau anda dalam posisi PEMAIN, ya anda harus bekerja keras dan cerdas untuk menjadi pemenang. Menjadi yang tercepat, terlincah, terbaik dan ter..ter.. ter… yang lain yang dibutuhkan di arena kompetisi ini. Kalo tidak, ya mungkin anda juga harus menyesuaikan diri untuk main di liga kelas dua, kelas tiga atau kelas jauh.
Kalau anda cuma PENONTON, ya nikmati aja permainan ini. Deg-degan sendiri, ribut sendiri, ketakukan sendiri, kegirangan sendiri, maki-maki atau puja-puji di medsos di time line sendiri, di like sendiri dan dinikmati sendiri di kamar mandi. Tidak ada pengaruhnya apapun terhadap arena permainan, apalagi untuk hidup dan kehidupan.
Kalau anda PENGAMAT, duduk manis dan tulis analisis anda. Jangan terlalu baper seolah orang-orang akan mengikuti cara pandang atau analisis anda. Menjadi pengamat tidak ada bedanya dengan menjadi penonton, cuma dia bisa menulis dan berbicara dengan standar EYD agak mendingan.
Kalau anda ORANG LALU LALANG DI LUAR ARENA, kenapa harus peduli dengan ini semua? Toh mbok-mbok tukang jamu, kuli bangunan, tukang sayur, pemulung dan buaanyak sekali manusia lain tetap percaya bahwa rejeki sudah ada yang ngatur. Why bother?
Tugas mereka hanya berusaha …and let’s God do the rest. Mereka baik-baik saja bersama keluarga mereka dalam dunia seperti apapun.
Wallahu A’lam.



NGERI-NGERI SEDAP DUNIA DIGITAL
(dari www.alidamanik.com)


Sewaktu cek-in di counter Garuda Indonesia di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, ternyata lebih dari 90% kursi sudah terisi. Padahal kami datang 2 jam sebelum waktu terbang. Kursi-kursi favorit dekat jendela dan di lorong semua sudah fully book. Kami bertiga akhirnya duduk di kursi-kursi tengah dan terpisah satu sama lain, diapit oleh orang-orang asing. Terbayang kami akan mati angin dalam penerbangan panjang itu.
“Sekarang rata-rata sudah (melalui) online cek-in, Pak”, kata petugas counter menjelaskan. “Yang cek-in melalui counter ini udah makin langka, tinggal orang kaya Bapak ini ..”, kata petugas pria setengah baya itu sambil menahan senyum. Saya merasa Bapak ini seolah sedang melihat Dinosaurus.
Tetapi senyum itu tiba-tiba hilang, dan dia berbisik penuh kemasygulan. Mukanya tiba-tiba serius; “tapi jangan ikut-ikutan online cek-in ya Pak. Kalo semua online, nanti kami kerja apa..?” Ahh…kemenangan memang manis…
Dari sekian banyak counter di terminal baru yang megah itu, memang 2 atau 3 saja yang buka. Sisanya kosong. Di counter yang buka itupun tidak terlihat antrian panjang penumpang. Hanya satu-dua saja.
Selamat datang di dunia digital. Dunia dimana mesin dan teknologi akan lebih banyak menggantikan peran manusia.
Dan mesin tak pernah ingkar janji, melakukannya dengan lebih cepat, praktis, efisien ngga pake repot.
Hari-hari ini, kita menyaksikan pengguna jalan tol harus antri lebih panjang kalo mau bayar pake uang tunai dibanding bayar pakai uang digital alias uang elektronik . Anda akan membayar lebih murah transaksi Go-Jek atau Go Food menggunakan Go Pay daripada pake uang tunai. Membeli barang lewat online jauh lebih murah dan efisien daripada anda pergi ke toko-toko atau warung konvensional. Dan seterusnya.
Ini dunia baru yang menggairahkan sekaligus membingungkan.
Menggairahkan karena kita akan masuk ke sebuah era baru yang berbeda yang menjanjikan kemajuan dan efisiensi . Membingungkan –bahkan buat sebagian, sepeti bapak penjaga counter Garuda itu, agak mencemaskan—karena akan ada dampak-dampak yang bukan tidak mungkin menyenggol kepentingan dasar anda. Boleh jadi yang kena senggol itu adalah periuk nasi anda.
Dan itu sudah terjadi.
Lihatlah, sudah berapa banyak mall dan pusat perbelanjaan yang tutup karena tidak mampu bersaing dalam dunia digital ini. Beberapa toko ritel sudah mengumumkan menyerah dan mengibarkan bendera putih. Yang paling tragis adalah kasus Seven Eleven (Sevel), tempat nongkrong anak-anak kekinian yang baru saja beberapa tahun lalu dipuja-puji karena terobosan bisnis modelnya.
Di belakang Sevel, ada Matahari, Ramayana, dan peritel-peritel yang mulai menutup satu demi satu cabangnya. Di belakang mereka, ada ratusan bahkan mungkin ribuan toko, ruko, yang sudah lama memasang pengumuman “DIJUAL” atau “DISEWAKAN”.
Jauh sebelum itu, sudah banyak korban bergelimpangan di medan pertempuran digital ini. Beberapa diantaranya adalah pemain-pemain raksasa yang terkenal seperti Kodak, Nokia dan BlackBerry. Dalam kasus Nokia, Stephen Elop Sang CEO suatu kali berujar penuh galau sebelum perusahaannya diakusisi Microsoft; “ kami tidak melakukan kesalahan apapun, tiba-tiba kami kalah dan punah”.
Dunia perbankan sudah lama mengurangi pelan-pelan pekerjaan –pekerjaan back office. Kalau tidak dikonsolidasi (kata lain dikurangi jumlah karyawannya) ya diotomasi, diganti oleh mesin. Dalam beberapa tahun ke depan, bahkan menurut para banker, akan ada 30 persen pekerjaan di dunia perbankan yang akan hilang, karena akan digantikan oleh teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Dunia transportasi sedang bersiap-siap untuk menyambut moda transportasi tanpa supir (driverless). Uber, salah satu pioneer dunia digital, sudah menguji coba terobosan ini. Bahkan Uber tidak memiliki asset berupa mobil yang dia sewakan. Dia hanya menyediakan aplikasi digital, dan perusahaan transportasi tradisional (seperti perusahaan taksi), harus menggelepar-gelepar.
Siapa yang menciptakan ini semua? Manusia. Siapa yang paling mengambil untung dari ini semua? Manusia. Siapa yang paling menderita dari ini semua? Juga manusia.
DIMANA POSISI KITA?
Beberapa bulan terakhir saya mendampingi para manager dari perusahaan Telekomunikasi terbesar negeri ini untuk melakukan perubahan menjadi perusahaan Digital. Mereka tidak akan banyak lagi menjual Pulsa dan Data, dua benda misterius yang selama ini menjadi tulang punggung penghasilan mereka. Kini, mereka akan menjual benda lebih misterius dan gaib lagi bernama barang Digital.
Mereka adalah para pemain garda depan di bisnis ini, para petarung yang bergulat di tengah arena permainan dan potensial keluar sebagai pemenang. Karena mereka memiliki sumberdaya melimpah untuk itu. Jaringan kabel atau nir-kabel yang membentang jauh sampai ke pedalaman-pedalaman, sumber daya manusia unggul yang mendapatkan pelatihan dan pendidikan terbaik, sumber dana tak terbatas dari investor kakap mereka, dan lain sebagainya.
Meski begitu, beberapa orang diantara mereka mengakui bahwa mereka sudah lelah mengikuti irama permainan super cepat dan spartan dalam bisnis ini. Mereka mulai berfikir untuk menepi, menjadi hanya penonton atau pengamat saja. Akibatnya mereka mulai berfikir untuk banting setir dan pindah haluan. Karena perubahan ke bisnis digital di perusahaan mereka bukan lagi sebuah pilihan melainkan sebuah keharusan jika ingin bertahan.
Gegap gempita dunia digital yang luar biasa ini memang menarik untuk dicermati, tetapi tentukan dulu posisi anda dimana dalam permainan ini, supaya anda tidak terlalu menghabiskan energi di dalamnya.
Ini siklus biasa saja dalam dunia ini. This old world keeps turning and we are here sit and wonder, kata sebuah pepatah. At the end, what we’re really learning, beibeh...
Perubahan dalam dunia digital ini sama saja dengan perubahan sejak zaman mesin uap di temukan oleh James Watt yang menjadi awal dari revolusi industri dulu. Tidak berbeda dengan perubahan status anda dari seorang bujangan menjadi seorang suami atau istri, kemudian menjadi orang tua. Selalu kita alami setiap saat, seperti perubahan jadwal meeting atau perubahan kebijakan setiap kali ganti pimpinan.
Kata kuncinya sama, sesuaikan saja cara anda berfikir, berdasarkan posisi atau visi yang anda pilih.
Kalau anda dalam posisi PEMAIN, ya anda harus bekerja keras dan cerdas untuk menjadi pemenang. Menjadi yang tercepat, terlincah, terbaik dan ter..ter.. ter… yang lain yang dibutuhkan di arena kompetisi ini. Kalo tidak, ya mungkin anda juga harus menyesuaikan diri untuk main di liga kelas dua, kelas tiga atau kelas jauh.
Kalau anda cuma PENONTON, ya nikmati aja permainan ini. Deg-degan sendiri, ribut sendiri, ketakukan sendiri, kegirangan sendiri, maki-maki atau puja-puji di medsos di time line sendiri, di like sendiri dan dinikmati sendiri di kamar mandi. Tidak ada pengaruhnya apapun terhadap arena permainan, apalagi untuk hidup dan kehidupan.
Kalau anda PENGAMAT, duduk manis dan tulis analisis anda. Jangan terlalu baper seolah orang-orang akan mengikuti cara pandang atau analisis anda. Menjadi pengamat tidak ada bedanya dengan menjadi penonton, cuma dia bisa menulis dan berbicara dengan standar EYD agak mendingan.
Kalau anda ORANG LALU LALANG DI LUAR ARENA, kenapa harus peduli dengan ini semua? Toh mbok-mbok tukang jamu, kuli bangunan, tukang sayur, pemulung dan buaanyak sekali manusia lain tetap percaya bahwa rejeki sudah ada yang ngatur. Why bother?
Tugas mereka hanya berusaha …and let’s God do the rest. Mereka baik-baik saja bersama keluarga mereka dalam dunia seperti apapun.
Wallahu A’lam.

Mengapa Google Menjadi Tempat Kerja Paling Membahagiakan? Ini Salah Satu Rahasianya

- Hallo sahabat BELAJAR DROPSHIP, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Motivasi Bisnis, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Mengapa Google Menjadi Tempat Kerja Paling Membahagiakan? Ini Salah Satu Rahasianya
link : Mengapa Google Menjadi Tempat Kerja Paling Membahagiakan? Ini Salah Satu Rahasianya

Baca juga


inspirasi
Mengapa Google Menjadi Tempat Kerja Paling Membahagiakan? Ini salah satu rahasianya.

Gajinya besar, makan besar hingga cemilan gratis, disediakan tempat tidur siang, disediakan berbagai sarana olahraga dan games, desain kantornya keren banyak spot selfie.

Semua Itu memang bikin asyik kerja di google. Tapi ada satu hal yang nggak banyak orang tahu, yang membuat Google menjadi salah satu tempat kerja paling membahagiakan di planet ini.

Chad Meng, salah seorang insinyur, salah seorang assabiquunal awwaluun di Google (dia karyawan no 107) adalah otak yang merancang sebuah program utk menciptakan suasana membahagiakan di Google.

Dia menggagas sebuah program untuk karyawan google namanya Search Inside Yourself. Programnya banyak dan unik2. Tapi saya mau share satu aja yang menurut saya simple tapi jleb.

Meng mengajarkan sebuah latihan pikiran selama 10 detik saja. Pikirkan dua orang yang ada di ruangan ini, lalu katakan dalam hati "Saya mendoakan dengan tulus agar si A bahagia, Saya mendoakan dengan tulus agar si B bahagia,".

Latihan simpel ini ternyata telah mengubah banyak orang. Setiap orang yang sudah mempraktikkan ini akan tersenyum dan merasa lebih bahagia dibanding 10 detik yang lalu.

Meng pernah mengajarkan praktik ini di sebuah seminar pada selasa malam. Dia menyarankan kepada audiens untuk mempraktikkannya besok saat kerja. 10 detik setiap jam. Pilih secara acak dua orang yang melintas di kantornya. Karena ini cuma dalam pikiran, tidak ada hal yang menyulitkan atau memalukan.

Pada hari Rabu Meng mendapat email dari salah seorang yang mempraktikkan latihan ini: "I hate my work, I hate coming to work every single day. But Inattended your talk on Monday, did the homework on Tuesday, and tuesday was my happiest day in 7 years."

Mengapa praktik ini begitu efektif untuk menciptakan suasana bahagia dlm hati?

Ketika mempraktikkan latihan ini saya baru sadar bahwa sumber stress adalah karena kita sibuk memikirkan diri kita. Coba cek doa-doa kita. 99% untuk kebaikan, kebahagiaan, kekayaan diri kita sendiri.

Kayaknya nggak pernah deh kita menyelipkan doa setelah solat untuk tetangga yang lagi susah, tukang mie tek tek yang malam2 lewat, atau petugas PLN yang ngecek meteran.

Padahal salah satu sumber kebahagiaan itu ternyata adalah melakukan kebaikan untuk orang lain, altruisme.

Dan sebaliknya, sumber ketidakbahagiaan adalah selfish, egoisMe, selalu Me Me Me (aku aku aku).

Makanya orang yang paling bahagia itu adalah Rasulullah. Hidupnya hanya untuk kebahagiaan orang lain. Doa doa dan harapannya untuk umatnya. Bahkan kata terakhir adalah Ummatii...

Dan Rasul juga pernah kasih satu resep kebahagiaan yang mungkin Chad Meng terinspirasi dari sini:

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (saudara seislam [ukhuwah islamiyah], saudara sesama manusia [ukhuwah basyariyah]) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama,” (HR. Muslim no. 4912). 🙏🙏🙏

inspirasi
Mengapa Google Menjadi Tempat Kerja Paling Membahagiakan? Ini salah satu rahasianya.


Gajinya besar, makan besar hingga cemilan gratis, disediakan tempat tidur siang, disediakan berbagai sarana olahraga dan games, desain kantornya keren banyak spot selfie.

Semua Itu memang bikin asyik kerja di google. Tapi ada satu hal yang nggak banyak orang tahu, yang membuat Google menjadi salah satu tempat kerja paling membahagiakan di planet ini.

Chad Meng, salah seorang insinyur, salah seorang assabiquunal awwaluun di Google (dia karyawan no 107) adalah otak yang merancang sebuah program utk menciptakan suasana membahagiakan di Google.

Dia menggagas sebuah program untuk karyawan google namanya Search Inside Yourself. Programnya banyak dan unik2. Tapi saya mau share satu aja yang menurut saya simple tapi jleb.

Meng mengajarkan sebuah latihan pikiran selama 10 detik saja. Pikirkan dua orang yang ada di ruangan ini, lalu katakan dalam hati "Saya mendoakan dengan tulus agar si A bahagia, Saya mendoakan dengan tulus agar si B bahagia,".

Latihan simpel ini ternyata telah mengubah banyak orang. Setiap orang yang sudah mempraktikkan ini akan tersenyum dan merasa lebih bahagia dibanding 10 detik yang lalu.

Meng pernah mengajarkan praktik ini di sebuah seminar pada selasa malam. Dia menyarankan kepada audiens untuk mempraktikkannya besok saat kerja. 10 detik setiap jam. Pilih secara acak dua orang yang melintas di kantornya. Karena ini cuma dalam pikiran, tidak ada hal yang menyulitkan atau memalukan.

Pada hari Rabu Meng mendapat email dari salah seorang yang mempraktikkan latihan ini: "I hate my work, I hate coming to work every single day. But Inattended your talk on Monday, did the homework on Tuesday, and tuesday was my happiest day in 7 years."

Mengapa praktik ini begitu efektif untuk menciptakan suasana bahagia dlm hati?

Ketika mempraktikkan latihan ini saya baru sadar bahwa sumber stress adalah karena kita sibuk memikirkan diri kita. Coba cek doa-doa kita. 99% untuk kebaikan, kebahagiaan, kekayaan diri kita sendiri.

Kayaknya nggak pernah deh kita menyelipkan doa setelah solat untuk tetangga yang lagi susah, tukang mie tek tek yang malam2 lewat, atau petugas PLN yang ngecek meteran.

Padahal salah satu sumber kebahagiaan itu ternyata adalah melakukan kebaikan untuk orang lain, altruisme.

Dan sebaliknya, sumber ketidakbahagiaan adalah selfish, egoisMe, selalu Me Me Me (aku aku aku).

Makanya orang yang paling bahagia itu adalah Rasulullah. Hidupnya hanya untuk kebahagiaan orang lain. Doa doa dan harapannya untuk umatnya. Bahkan kata terakhir adalah Ummatii...

Dan Rasul juga pernah kasih satu resep kebahagiaan yang mungkin Chad Meng terinspirasi dari sini:

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (saudara seislam [ukhuwah islamiyah], saudara sesama manusia [ukhuwah basyariyah]) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama,” (HR. Muslim no. 4912). 🙏🙏🙏

Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian

- Hallo sahabat BELAJAR DROPSHIP, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian
link : Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian

Baca juga


Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : KEMBALI KE TANAH JAWA

"Aku tahu keris pusaka itu ada padamu!" kata Wiro. "Otakmu culas! Mulutmu busuk! Kalau kau menuduh aku memiliki keris itu, silahkan ambil sendiri!" kata Damar Wulung. Tiba-tiba Sutri Kaliangan melompat ke hadapan Damar Wulung. "Atas nama Kerajaan aku harap kau menyerahkan Keris Naga Kopek padaku!" Damar Wulung tertawa bergelak "Ini satu lagi gadis sesat kena tipu daya Pendekar Sableng! Aku menghormati dirimu sebagai Puteri Patih Kerajaan. Jika kau mau berlaku adil, mengapa tidak menangkap Wiro yang jelas-jelas adalah buronan Kerajaan?!" "Aku tidak mau tahu hal dia buronan atau bukan. Serahkan Keris Naga Kopek padaku!" bentak Sutri. "Ha....ha! Rupanya kau termasuk di barisan para gadis cantik yang jatuh cinta pada Pendekar Geblek itu!" "Sreett!" Sutri Kaliangan keluarkan pedangnya dari dalam sarung.



SATU

Puncak Gunung Gede tampak berdiri gagah dan indah, hijau kebiruan di bawah siraman sinar sang surya. Walau
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1WIRO SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tito

Episode : KEMBALI KE TANAH JAWA

"Aku tahu keris pusaka itu ada padamu!" kata Wiro. "Otakmu culas! Mulutmu busuk! Kalau kau menuduh aku memiliki keris itu, silahkan ambil sendiri!" kata Damar Wulung. Tiba-tiba Sutri Kaliangan melompat ke hadapan Damar Wulung. "Atas nama Kerajaan aku harap kau menyerahkan Keris Naga Kopek padaku!" Damar Wulung tertawa bergelak "Ini satu lagi gadis sesat kena tipu daya Pendekar Sableng! Aku menghormati dirimu sebagai Puteri Patih Kerajaan. Jika kau mau berlaku adil, mengapa tidak menangkap Wiro yang jelas-jelas adalah buronan Kerajaan?!" "Aku tidak mau tahu hal dia buronan atau bukan. Serahkan Keris Naga Kopek padaku!" bentak Sutri. "Ha....ha! Rupanya kau termasuk di barisan para gadis cantik yang jatuh cinta pada Pendekar Geblek itu!" "Sreett!" Sutri Kaliangan keluarkan pedangnya dari dalam sarung.



SATU

Puncak Gunung Gede tampak berdiri gagah dan indah, hijau kebiruan di bawah siraman sinar sang surya. Walau
... baca selengkapnya di Wiro Sableng #125 : Senandung Kematian Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1